Sabtu, 23 Juli 2016

SEJARAH AWAL MULAH KERAJAAN BUGIS TURUN TEMURUN SULAWESI SELATAN

PANCAITAN BUNGAWALI-E

                                              (Srikandi Pejuang dari Endekan/Massenrempulu)

         PANCAITAN BUNGAWALI-E adalah Puang Endekan XI, seorang Srikardi pejuang yang memimpin perlawanan rakyat Enrekang/Massenrempulu menghadapi VOC. Belanda pada tahun 1905-1912. Pancaitan Bungawalie-E naik tahta atas pilihan rakyat mengganti ibunya We Tonang Puang Endekan X. Sebagai seorang raja ia memiliki perangi memikat. tutur kata lembut dan senantiasa tampil mempesona. Masa kecilnya di leati di istana Puang Endekan dengan tekun belajar aksara Bugis dan huruf Arab. ia belajar tasauf dan pengetahuan syariat islam remaja sudah senang naik kuda dan menyulam tikar serta keranjang yang terbuat dari serat rotan yang halus.

          PANCAITAN BUNGAWALIE-E adalah puteri dari We Tonang Puang Endekan X anak La Baso Puang Endekan IX keturunan Towala Puang Endekan VII yang kawin dengan We Billa Datu Pila Gilireng Wajo. Suaminya La Patiroi Datu Sereang Jenderal Kerajaan Cambang Muhammad arase addatuang Sidenreng III keturunan La wawo addatuang Sidenreng II yng kawin dengan datu soppeng Riaja. ayah Pancaitan Bungawalie-e yakni Tawacalo Pua'ta Maiwa bersaudara kandung dengan La Panguriseng ayah dari La Patiroi,  suami Panca Bungawalie-e . masalah pemerintah banyak ditimba dari bundanya, termsuk upayanya ikut mendengarkan pertempuran Hadat 12 dengan To Puang Endekan ke X.

          Sewaktu We Tonang puang Endekan X wafat, pembesaran kerajaan dan Hadat 12 berusaha mencari penggantinya. Menurut ketentuan dalam pemilihan To Puang Endekan aada beberapa persyaratan, diantaranya, : ramah, cerdik , tidak cacat, patuh pada syariat islam cantik atau gagah, sehat,berani,jujur,bijaksana dan kehidupannya sederhana, Pada saat pemilihan kemudian tampil Pancai  tanah Bungawalie-e mendapatkan suara secara aklamasi. Untuk membuktikan tanggung jawabnya kepada kerajaan Endekan/Massenrempulu dan kepada rakyat, dalam Sumpah Pancai Tana Bunga Walie-e, antara lain: Iyakumo te tola tadungngiko, iko manan to tau buda . iko manan sumanaga: Tola mungenni muttupp, iko sininna totau buda, musenrek'i Tola paolako lako di lalan pura onrona Endekan, di lalan malampu. Tola kolakakko kolangmu. Artinya : Saya akan melindungimu, wahai seluruh rakyat. sayalah tempatmu, berlindung dan bersandar. saya yang akan memimpin mu berdasarkan ketentuan, tradisi dan adat istiadat yang telah rakyat Endekan taati turun temurun.

           Dimana Pemerintah Pancaitan Bungawalie-e dibantu  Hadat 12 Ada' Sappulokore serta Madika suasana negeri aman dan tentram. Kemudian datanglah penjajahan VOC Belanda di sulawesi selatan. tanggal 20 juli 1905 invasi Belanda menaklukan BONE. sementara Gowa pada tangggal 25 september 1905. Tentara belanda dipimpin kolonel Van Loemen melanjutkan ekspedisi ke Utara dengan pemusatan pasukan di WAJO, SAWITTO, SUIDENRENG. Begitupun juga belanda menguasai Pompanua,PALOPO,PINRANG,MASSEPE,RANTEPAO dan majene.

           Dengan demikin Endekan/Massenrempulu sudah terkepung dari semua jurusan. selain melakukan invasi, maka tujuan belanda ke Endekan/massenrempulu adalah untuk mengejar raja Bone Lapawawoi krg sigeri yang masih mempunyai hubungankekeluargaan dengan raja dari endekan Bambapuang. sewaktu tentara belanda berada di maiwa, Puang endekan Pancai Tana Bungawalie-e Sullewatang endekan telah meninggalkan istana menuju ke Bambapuang. Pancaitana Bungawalie-e sebagai seorang srikardi, raja dan pemimpin pejuang perlawanan rakyat Endekan/Massenrempulu pada masa itu terjun ke medan pertempuran. Tahun 1905 tentara belanda menuju ke duri setelah mengalami hambatan dan perlawanan dan perlawanan di benteng Londe-londe. Di sini terdapat letkol Van Pannenkom Residen Brugman. Tanggal 14 Oktober 1905 pasukan Belanda dibawah pimpinan Groot Mayor de Wijs datang dari Rantepao. karena merasa kuat belanda melakukan teror di kampung kalosi. Selanjutnya Letkol Van Pannemkom dan pasukannya kembali ke Endekan. Sejak itu kembali pertempuran sengit antara pasukan belanda dengan pasukan Pancai tana Bungawalie-e . Pertahanan di benteng Kotu,Kaluppini dan Ranga membuat pasukan Belanda dalam posisi sulit. Sementara pahlawan wanita MASSENREMPULU, Puang Endekan XI, Pancai Tana Bungawalie-e terjun ke pertempuran dengan menunggu kuda "balibi"(TEMBAGA). Pemberani wanita Indo Rangan serta Indo Caba yang berkepala gundul tampil di depan melakukan kontak langsung dengan Belanda.
Sebuah pertmpuran yang panjang. Bertahun-tahun lamanya  Pancai tana Bungawalie-e menyusun kekuatan dan pertempuran melawan Belanda. Ketika Pancai tana Bungawalie-e mengalihkan markasnya di Londa (Temban).  Datanglah Puang Cora Dg Malabbi Arung Sossok mendukung dengan bantuan logistik sambil berembuk pengatur siasat menghadapi Tentara belanda yang datang dari makale (TANAH TORAJA). Salah seorang pemberani bernama Puangnga Sapu yang terkenal dengan ucapannya yang gagah dan berani : "Iyapa kupattiling-tilinganni beluwang, sempongenoku, marowapi pasak di tangnga padang "Artinya : Saya baru mengurai rambut panjangku setelah mengahadapi bayonet di arena maut. Ternyata Puana Sa'pu tertangkap belanda dan dihukum tembak. Namun ia tidak tembus peluru (KEBAL) sehingga belanda sulit membunuhnya. Pemberani Messenrempulu itu terbunuh setelah alat kelaminnya terpotong. Ratusan pejuang  Mssenrempulu yang Mati di tangan penjajah. Namun pejuang terus dilanjutkan, meskipun Pancai  Tana Bungawali-E harus berpindah-pindah dari benteng yang satu ke benteng yang lain. Sebagaimana diketahui bahwa di kerajaan Endekan/Massenrempulu terdapat benteng londe-londe, benteng Ranga, Benteng kaluppini , benteng alla, benteng buntu batu, benteng kotu, dan mindatte.

Dengan penuh ketabahan, Pancai Tana Bungawaalie-E bersama pasukannya tak kenal menyerah, kepada anak buahnya ia terus minta agar mundur menghadapi tentara Belanda kalau kita mesti mati, ujarnya, maka cucu kita akan bercerita bahwa kita mati krena melawan Belanda. Pancai Tana Bungawali-E mengingatkan bahwa: Iyapi na di sanga mesa tau barani ke maccai, Artinya : seseorang di katakan berani kalau dia pintar (PANDAI) . Justru dalam melakukan sesuatu perlu mendapatkan pertimbangan dan mendalam. Apapun kekalahan tetap menjadi cermin sejara bagi generasi mendatang DI lima Massenrempulu.

        Digempur dari semua arah, tetapi Pancai Tana Bungawalie-E terus bertempur dengan gagah berani. Meskipun taktik dan senjata yang digunakan amat sederhana  namun mampu merepotkan kedudukan pasukan Belanda. Atas bujukan keluarga sendiri, Kemudian Pancai Tana Bngawalie-E mengadakan perjanjian dengan belanda. Walaupun sesungguhnya hati nurani Puang Endekan XI ini tak pernah mau menyerah. Dengan menandatangani koorte Verklaring, sejak tahun 1912 yang di angkat sebagai zelfbsteur Van Endekan. Ada petua Pancai Tana Bungawalie-E yang hingga kini Penting untuk di catat yaitu : Pijappui inde Batang kalemu.
Tuhan Yang Maha Esa. Pancaitana Bungawalie-e wafat pada tahun 1918. Pemakamannya di hadiri raja-raja di Sulawesi-Selatan . Sampai sekarang nama Pancai Tana Bungawalie-E juga di kenal sebagai raja wanita terakhir melawan beland di Indonesia. Pemakaman Pancai Tana Bungawalie-E dilakukan di Buttu Tangnga Endekan dalam upacara militer Belanda yang dipimpin kapitan tiedeman selaku Gezaghebber van Endekan di hadiri raja dan bangsawan dari Luwu, Tanah Toraja, Addatuang sidenreng, Addatuang Suppa, Addatuang Sawitto, Pitu Babbaminanga Mandar, Datu soppeng , Matoa Wajo, dATU Tanete/Pancana. Mereka itu adalah Zelfbesteur van Landschappen sebagai rekan - rekan almarhum Pancai tANA bungawalie-E . Bertindak selaku tuan rumah adalah seluruh Zelfbesteur van Landschappen Onderafdelling, Endekan yakni Alla, Malua, Buntu Batu dan Maiwa.( H. Udhin Palisuri).


PANCAI TANA BUNGAWALI-E, PUANG ENDEKAN XI
Raja dan Pejuang wanita yang terakhir melawan Belanda 
oleh : Udhin Palisuri


       Kerajaan Endekan pada mulanya dibangun oleh Danrakati (seorang puteri) dengan menggabungkan Taulan ( Cendana) Dan Tindalung (Papi) Dari Tindalung (Kotu) Danrakati ke Papi kemudian menjadi Puang Papi, selanjutnya ke Buttu Bajai,Letta Sewaktu sewakan pulang ke Tindalung ia kesasar di tengah  hutan. Sementara itu Tenriangka dari Taulan yang sedang berburu rusa menemukan Danrakati di atas pohon. Pertemuan yang berlanjut pada perkawinan ini sebagai awal membangun Endekan atau akrab disebut ENDEKAN. Danrakati adalah Turunan dari Tomanurung Wellang Rilangin dari Gunung Bamba Puang yang kawin dengan Macciangka.

       Danrakati dan Tenriangka melahirkan seorang bernama Takkebuku, Takkebuku kawin dengan La Mappesangka dan lahirlah Kota, seorang puteri, yang dikawini pasoloi, putera Madika Timbang (Rangka). Pada masa perkawinan ini dan setelah bergabung lima kerjaan keil yakni" Tindalung, Taulan, Timbang, Cemba, dan Tallu Bambana, kemudian di musyawarahkan membentuk Kerajaan Endekan, Sebagai Puang Endekan I ditunjuk Takkebuku. Puteri dari kota menjadi Puang Buttu II. Pelantikan di akui sejumlah kerajaan.

       Puteri dari kota yaitu Bissu Tonang kawin dengan La Patau Addatuang Sawitto Timorang Saddang menjadi Puang Endekan III dan sudara kandungnya Tomaraju sebagai Puang Buttu I yang kawin dengan puteri Puang Ladorundum keluarga Puang Makale di Burake. Selanjutnya La Mappatunru Puang Endekan IV, Muhammad Yusuf Puang Endekan VII. Karena Muhammad Yusuf menderita sakit, ia di ganti Toalala keturunan Puang Cemba dan Baso Kalempang Sidenreng menjadi Puang Endekan VIII. Usul datang dari La Tanro Bunga Dea (Puang Buttu V) . Puang Endekan IX Puang Baso Arung, Kemudian Tonang sebagai Puang Buttu ke X dan kawin dengan Taocalo Pua'ta Kaci Mawi. Dari sini Lahir Pancai Tana Bungawalie-E ( Puang Endekan XI) yang kawin dengan La Patiroi Jenderal Perang Sidebreng putera Lapanguriseng Addatuang Sidenreng, masih sepupu sekali Pancai Tana Bungawalie-e . Anak Tiri dan kemenakan sementara Andi Muhammad Tahir ja'ni Andi achmad sebagai Puang Endekan ke XII (1917-1934), sementara Andi Muhammad Tahir putera Andi Tenridolong (Aru Bila) keturunan Toalala Puang Endekan VIII sebagai Puang Endekan xiii (1934-1950).

       PANCAI TANABUNGAWALI-E seorang keturunan bangsawan yang rupawan. Masa kecilnya dilewati istana We Tonang, Puang Endekan ke-II. Selain berparas cantik, tutur katanya, lembut, tingkah lakunya yang santun membuat terpuji di antara Teman-temannya. Selain Bugis, Pancai Tana Bungawali-e juga mempelajari bahasa Arab dan Tasauf dari seorang Kyai kebangsawan Arab yang datang berdagang ke Endekan melalui pelabuhan Maroneng (Bungin) Sejak kecil sudah berlatih menunggang kuda.

Kegemarannya tersebut membuatnya amat lincah menunggang kuda dari mengenakan pakaian pemberani Endekan berwarna merah. Selain memelihara bunga ia senang memancing ikan dan menangkap udang di sungai. Ia juga menganyam tikar dari bahan daun lontar yang disayat halus dan tipis.

        Setelah We Tonang, Puang Endekan X wafat, maka adat 12 ( Ada sappulo korena Endekan) bersama Puang Buttu, Manyorok Tungkak, Manyorok Lolo, Kapitan Endekan, Pabbicara Endekan, Pabbicara Pondik, Sulewatang Endekan, melaksanakan musyawarah yang dihadiri para Madika, Tappuare, ( Rakyat) Dulung dan Sando. Mereka akan memilih Puang (Raja) yang baru. diimana Pncai Tana Bungawali-e puteri We Tonang sendiri yang terpilih denghan aklamasi. dalam pelantikannya sebagai raja tampil Pabbicara Endekan menyatakan janji (Sumajo) sambil mengurus keris pusaka bertuah bernama " Lamaccirangga" sambil berkata : 

       Tabek kupajolo mati"
       Kita kitai tee, kita kitai tee, kita kitai tee
       iko manan sammanek
       kita kitai tee Puang
       kita kitai tee ikita' sininna to Pappuangakki
       iko mo te'e tola ta' dungdikan to tau buda
       iko mo te'e tola natuppinnapikkalesai'
       Naola to tau budana endekan, Sa-Endekan
       Iko mo te'e tola ki sanre'i

       Artinya :

      Terlebih dahulu mengatur sembah dan Hormat
      Lihatlah, lihatlah, lihatlah saudara-saudra sekalian
      Lihatlag ini wahai sembahanku
      Lihatlah ini wahai semua para keluarga raja yang hadir
      Engkaulah yang menjadi payung melindung rakyat
      Engkaulah yang menjadi tumpuan tempat berpijak bagi rakyat
      Engkaulah tempat kami bersandar bagi seluruh rakyatmu

Dengan menari berkeliling, kemudian mengucapkan keris "Maccirangga" di hadapan Pancai Tana Bungawali-E yang mengenakan pakaian "Antalasaki" (Pakaian Kebesaran) di atas tanah "Bangkalaki"(tempat pelantikan).

      Dengan tenang dan berwibawa Panci Tana Bungawalie-E mengatakan : ( Jakarta, 31 JKKKKJ)

      Yaku mo te'e pisaddinggi inde' pisadingi'
      Tola tadungiko ikon manan mo tu tau budo, iko manan samanga'k
      Tola manei mittupu, iko sinanna to tau buda, musanrek'i
      To paola lako dilalan pura onro na Endekan, dilalan malampu'
      Tola kolakakko kolang mu

       Artinya :

       Saya ini. dengarlah-dengarlah
       Yang akan melindungi semua
       Yang akan engkau jadikan  tumpuan bagi seluruh rakyat
       Yang akan memimpin mu berdasarkan aturan, tradisi dan hukum adat secra turun temurun
       Yang akan membimbingmu ke jalan lurus, jalan yang di ridhoii Allah
       Yang akan memberikan hakmu dan menuru kewajiban

Sebagai penutup  kata Pancai Tana Bungawali-E Berkata :\

        Assai ! Assai ! Assai

Kemudian semua hadirin menjawab dengan serempak :

       Iye Puang, Iye Puang. Kumu sumanga' mu Puang
       Namalando tolalan muolo tonapurio totobuda.

        Artinya : 

        Inilah kebenaran, Inilah kebenaran.
        Berbahagialah hidupmu ya sembahanku.
        Engkaulah pemimpin.

        Setelah diangkat sebagai Puang Endekan XI, Pancai Tana Bungawali-E juga ayahandanya Towaccalo Pua'ta Maiwang berdasarkan Musyawah HADAT 8 ( Lakarua di Maiwang) sebagai Puang raja di (Maiwang). Sebagai raja yang di pilih Rakyat, baik hadat 12 kerajaan Endekan dan Hadat 8 kerajaan Maiwa. Maka Pancai Tana Bungawali-E menekankan pentingnya : " Menggunakan kekuasaan untuk kepentingan rakyat". Namun dalam pemerintahannya, Pancai Tana Bungawali-e mengurus hampir setiap gejolak dan konflik yang terjadi di Tallu Batu Papan, Kassa, Batulappa, di lima Massenrempulu.

         Dalam memimpin kerajaan ENDEKAN, Pancai Tana Bungawali-E  terkenal bijaksana dan memang teguh janji untuk mendahulukan kepentingan rakyat. Ketika terjadi pertentangan antara Malua dan Buntu Batu kemudian Banti dan Anggeraja maka suami Pancai Tana Bungawali-E yaitu  La Paitroi Jenderal Perang kerajaan Sidenreng Datang melerai perselisihan tersebut. Dalam usaha menegakkan persatuan  diantara keluarga ini, kemudian Pancai Tana Bungawali-e memutuskan untuk datang sendiri ke Manggugu mengusahakan perdamaian. Sebagai simbol persatuan di kerajaan Duri, Toraja dan Endekan Kemudian muncul pernyataan simbolik dan Pancai Tana Bungawali-E yang berbunyi :

         Makale jiong, Endekan Jao
         Baroko jiong, Endekan Jao

         Artinya :

         Makale di bawah, Endekan di atas
         Baroko di bawah, Endekan di atas

         Padahal sesungguhnya Endekan menurut letak Geografisnya berada di dataran rendah, sedang Baroko dan Toraja di dataran tinggi. Namun ini merupakan wujud persatuan diantara mereka, karena dalam sejarah dahulu kala ketiga rumpun keluarga ini pernah diperintah oleh tiga orng saudara . Tokalu, memerintah Endekan, Todierung  memimpin Kerajaan Makale dan Tolajuk memimpin Baroko. Sebagai bukti hubungan erat antara kerajaan Endekan dengan Tallu Lembanna, maka yang tertulis dalam Lontara (Bahasa Bugis) dikatakan :

          "Narekko natujui perri' jak naperri' deecceng
          "Tallu Lembbanna" ( Makale, Mingkendek dan sanggalla),
           Mareppak bacu-bacue , ma'darumpu labbue' na ola to endekan nge,
           temmatajeng, doko innanre , naenre , Ri Tana Toraja, nalao timporingiwi siajianna".

           Artinya :

           Apabila kerajaan Makale , Mingkendek , dan Sangalla
           Terkena musibah duka ( RAMBU SOLO)  atau pesta perkawinan
           (Rambut Tuka)  maka pecah kerikil dan abu bertebangan di
           jalan yang dilewati orang Endekan tak menunggu bekal,
           datang menjenguk keluarganya.

          Puang Endekan XI Pancai Tana Bungawali-E (1882-1918) menjalankan pemerintahan sesuai dengan kepercayaan  rakyat Sebagai keturunan pemberani, maka Pancai Tana Bungawali-E  dikenal rendah hati, tanpa pamri, disamping, disamping ikhlas, arif dan jujur. Dalam pemerintahannya Pancai Tana Bungawali-E sebagai Puang (Raja) Endekan Di dampingi Oleh Puang Buttu yang menurut istilah Prof. Dr. Zainal Abidin Farid, SH sebagai " Mangkubumi". Namun demikian Puang Buttu juga dikenal sebagai Puang di TANGNGA PADANG Yang mengurusi hubungan kerajaan dengan kerajaan di luar endekan. Puang Buttu juga pemegang adat Mappura Onro, Pattaro Toriolo, Pangganna Tomatua dan Pappasan Toriolo.

Selai itu Puang Buttu (Arung Buttu) membawahi Ponggawa,Mayoro,Manyoro Lolo, Pangulu Lompo, Sariang, Pasukan (tentara) seperti "Gajang di Takin" (Kotu , Kabere , Kaluppini, Lekkong) dan Massemba urusan amunisi/peluru, Sehingga dalam hidupnya secara Turun Temurun, Terutama dengan kedatangan penjajah VOC, maka Puang Buttu disebut sebagai Panglima Gabungan Angkatan Perang Massenrempulu. Sementara itu Puang Endekan Pancaitana Bungawali-E yang tinggal di istana kerajaan membawahi langsung hadat 12, Urusan Logistik, Kadhi, imam, Sullewatang, Sabbanara (Keuangan), Jannang sampai pekerja Sawah, pengambil kayu bakar, dan pengambil rotan , Pada saat itu di atur dengan hubungan Arung/Madika Takke dari Tallu Lembanna (Tator), Manula, Alla, Buntu Batu, Baroko, Papi, Batu Lappa , Kassa , Maiwa, Ranga, Tungka. Sesungguhnya peranan Arung Buttu dalam mengsukseskan tugas Puang  Endekan sangatlah Besar. sebagaimana sejarah telah mencatat bahwa Puang Endekan III Bissu Tonang adalah saudara kandung Tomaraju, Puang Buttu I. 

           Menurut Bomperilangi bahwa pada tahu 1907 datang di Endekan masing-masing La Sinrang, Jenderal kerajaan perang Sawitto, Andi Noni Manyorok Rappe Rappang Andi Makkarodda Arung Kulo dan Lapitiroi  Jenderal perang dari Sidenreng. Mereka mengadakan musyawarah untuk membahas kedatangan VOC Belanda . Dari hasil Musyawarah ini kemudian kerajaan di Lima massenrempulu Yaiyu ": Endekan , Kassa, Mariwang ( Maiwa),  Batulappa dan Duri menyatakan siap menghadapi VOC Belanda . Sebagaimana saudara-saudaranya dari Sawitto dan Sidenreng menyatakan diri akan menghadapi belanda atau Si Mabusa Mata (si Puti Mata) . Andi Noni Manyoro Rappe Rappang pada kesempatan ini berdiri dan mengatakan ":

           Masagala ritu jemma
          Tettong mangau ale
           rupaiwi jancinna

          Waju eja masulik ellinna
          ritengnganapi padangnge
          nameke riwaja

          Artinya :

         Jarang pemudah gagah
         berdiri menepuk dada
         untuk menepati janji

         Baju merah harganya Mahal
         keberanian perlu dibuktikan
         dalam pertempuran , diujung bayonet

Kemudian di jawab Indo Ranga dan Indo Caba , pemberani Endekan Sebagai Berikut :

          Bannang Busa mappesona
          Malea mamminasa
          baling sipuppuran
          Baling ngaka to kamalo
          njo nabaling kana
          tappacok jawa

          Artinya :

          Benang putih menawan hati
          Merah menjadi idaman
          Hancur bersama , luntur bersama
          Kamalu bisa Luntur
          Namun tak Gampang luntur
          Kasumba dari Jawa

Kemudian Puangnga Sapu, adik dari Puangnga Dangnga, Sulewatang Endekan, mencabut kerisnya kemudian mengucapkan kata-kata pembakar semangat sebagai berikut :

           Lupa kupatillingtilinganni
           Belua'ang sampo genoko
           marowapi pasak ti tangnga padang

           Artinya :

           Rambut kami baru akan terurai
           Kalau menghadapi musuh
           di arena maut

Semua ungkapan di atas di tunjukkan betapa besar keberanian pejuang dalam mempertahankan setiap jengkal tanah negerinya, Sebagaimana Puang Endekan XI Pancai Tana Bungawali-E  di kenal bijaksana dalam mengambil  keputusan. Puanna Sapu sebagai seorang pemberani Endekan sejak dini tidak menginginkan VOC Belanda menginjak kaki di Bumi Massenrempulu. Justru dalam perlawanan menghadapi Belanda . Puanna Sapu yang di kenal kebal itu dibunuh belanda dengan jalan memotong alat kelaminnya,. Sewaktu VOC Belana sudah mempersiapkan pasukan menyerbu Endekan , kemudian Pancai Tana Bungawali-E  mengadakan musyawarah di pasar lama Endekan dihadiri Tarakka Puang Cimpau Silewattang Endkan, La Tanro Puang Buttu, Toacca Mayota Tungka, A. Pallao Madika Karueng , Sabatiara Dg Sitonra Madika Tongka, La Malla Dg Mattepo Madika Ranga , Dg Marola Madika Tallubambana, Kapitang Pasulu Uwa Basara, Uwa Tetteng Pabbicara Pondi, La Matta Nene Battoa, (Hadat12) para pemberani yang terdiri dari Puanga Madda dari Kaluppini, Kalurung Punga Pasari Cemba, Mattoreang Punga, Sapu Papi, Barring Kotu . Dalam pertemuan ini akan diambil keputusan apakah menghadang Belanda dalam perjalanan dari Rappang ke Makale atau waktu kembali dari Makale . Diputuskan Bahwa penyerangan dilakukan setelah Belanda kembali dari Makale.

          Sebagaimana di ungkapkan oleh H. Andi Parenrengi Tanri bahwa dalam menghadapi serangan Belanda telah dilangsungkan pertemuan yang dipimpin sendiri Oleh Pancai Tana Bungawali-E . Pada saat itu hadir  hulubalang, pemberani dari panglima pasukan . Di anatarnya Puanna Danga ( Sullewatang Endekan)  Puanna Sapu, Daenna Marajanga dari Benteng Bamba Puang , Madika Binting, Baring dan Benteng Ranga, dan Kaluppini . Nene Bone dan Cappuda dari Benteng Londe-Londe, Lapasulu Uwa Basarah dari Benteng Buntu Batu, Uwa Saruran dan Nene Linti dari Benteng Alla serta Indo CABA' pemberani dari Mendatte, Kotu, Pertemuan para to Barani (Pemberani) ini memutuskan untuk mempersiapkan semua benteng bertawanan dalam menghadapi Belanda. Hal ini dilaporkan kepada Puang Buttu sebagai Panglima Perang Massenrempulu. Setelah itu usaha memperbaiki benteng pertahanan dilaksanakan siang dan malam. Dengan Berpegang teguh pada perintah Puang Endekan Pancai tana Bungawalie-E agar menghadapi belanda hingga titik darah yang penghabisan. membuat semua to Barani (pemberani) dalam keadaan siap Tempur. Setelah menaklukan kerajaan Sidenreng dan kerajaan

Kerajaan Sawitto, sebagaimana Kerajaan Bone dan Gowa maka pada tanggal 10 Oktober 1905 tanggal 12 Oktober 1905 pasukan Belanda bergerak kmenuju Endekan. Sesungguhnya maksud kedatangan Belanda ke Endekan antara lain untuk menangkap kerajaan Bone Lapawawoi Dg segeriyang masih ada hubungan keluarga dengan Raja Bambapuang Massenrempulu yang diduga berada di Massenrempulu. menggunakan nyarang Patteke(kuda beban) dengan susah payah mendekati jalanan sempit berbatu-batu. Karena kondisi jalan sangat sulit, banyak kuda beban Belanda tergelincir  dan jatuh ke jurang . Di perbatasan Maiwa- Endekan (sekitar jembatan baje sekarang) jalan di tutup dengan batang kayu dan besar Hambatantersebut mebuat perjalanan tentara belanda terhenti. Setelah bersusah payah akhirnya pasukan Belanda tiba di Endekan . Mereka masih menyaksikan para pengungsi meninggalkan Endekan. Sementara istana Raja dan sulewetang dalam keadaan kosong.

          Tanggal 12 Oktober 1905 Belanda dan persosenya melanjutkan perjalanan menuju Kalosi/Duri sebelumnya telah terjadi pertempuran dengan pasukan Pancai Tana Bungawali-E yang mempertahankan benteng Londe-londe. sementara Pancai Tana Bungawali-E memimpin langsung pertemuan dan kedudukan di Bamba Puang. Tanggal 13 Oktober 1905 pasukan Belanda memasuki Kalosi. Tanggal 14 Oktober 1905 tiba juga pasukan Belanda di Rante Pao yang di pimpin Oleh Groot Mayoor Wijs. Karena. Karena merasa pasukan sangat kuat, lalu Pasukan Belanda mengadakan Teror di Kalosi. Tanggal 17 Oktober 1905 Letkol Van Ponnemkom bersama pasukannya tak dapat dielakkan. Indo Ranga yang berkepala gundul dan Indo Caba ' dua pejuang Wanita pendamping Pancai Tana Bungawali-E  menunjukka keberaniannya melawan Belanda. Pada saat itu Benteng Bamba Puang  dipertahankan Oleh ,Puang Danga, Puang Sapu, Puang Bangnga, Baring Manuk dan diperkuat Oleh Pasukan Madika Bintang dari Londe-Londe. Mereka berhdapan langsung dengan pasukan Belanda yang memiliki alat persenjataan Modern. Dengan semngat membara pasukan Belanda berhasil dipukul mundur. Sewaktu Belanda menerima bantuan dari kalosi sebaliknya pasukan Kerajaan Endekan yang ditekan.  Sebuah pertempuran yang penuh heroisme. Disini pertempuran terbesar selama Pancai Tana Bungawali-E menhadapi pasukan Belanda selama Bertahun-tahun. Dengan menunggu kuda dan memakai selendang warna merah, dengan gagah srikandi pejuang dari Endekan ini memimpin langsung pasukannya . Pancai Tana Bungawali-E  tercatat sebagai raja/pejuang wanita yang trakhir memimpin rakyat Massenrempulu menghadapi penjajah Belanda.

         Dalam pertempuran ini banyak Korban dari pihak Belanda dan juga pasukan Pancai Tana Bungawali-E . Setelah berhari-hari melakukan pertempuran , kemudian MANYORO Tungka dan Sullewatang Endekan menyarankan agar Pancai Tana Bungawali-e mundur ke Benteng Buttu Batu, Setelah berfikir sejenak , kemudian Pancai Tana Bungawali-e. menerima saran tersebut Tetapi Indo Caba' sebagai pemberani, berkata kepada Pancai Tana Bungawali-E :

         Naparai' nadee'n soro boko' tee puang ?

         Artinya : 

         Kneapa harus mundur ? Wahai Rajaku ?
         Dengan tenang dan wajah yang meliputi kelembutan . Pancai Tana Bungawali-E menjawab :

         Tallu ngallomoki tee siolaola mammusu sola To Balanda
         Buda moki inde' mate . ia to Balanda malocong
         Buda tomo mate. Ikita To tubirang buda tomo  mate. I Cicik, I Saira
         I indo Rasi , I Riccing , I Indo Mangepe, I Marik Sola budapa laenna
         Njjo 'inde kukullei tappuammanankko sanganna. Napaiting wai matakku
         Kekuingngarani. Iyakia apa dipugaung . ia totumuane anggimo
         naadipau , natanni tongannai jancinna to kumua : Tea napukaunan To Belanda

         Artinya :

         Telah tiga hari lamanya  bertempur mati-matian melawan Belanda.
          Dengan melaksanakan berbagai cara yang luar biasa. Namun telah banyak
          Korban yang tewas, laki-laki dan perempuan, pemberani yang saya
          cintai. Air mata saya mengalir jika mengenang itu semua . Namun apa
          yang hendak dikata. karena mereka telah memenuhi janjinya  untuk tidak
          ingin dijajah dan diperinta oleh Belanda.

Selanjutnya Pancai Tana Bungawali-E berkata' :

          - Ei Indo Caba , iko Indo  Ranga.
          Kuussen naka tolammai dibatangngu iareka tolammai diatimmu.
          Sabbarako Sabbirang . Nasaba iya patuu nadissengan tomesak
          tau barani ke mac-cai.

          Artinya :

          Wahai Indo Caba, juga Indo Ranga.
          Saya mengetahui getaran jiwamu. Sabarkanlah hatimu saudaraku.
          Sebab orang baru dikatakan berani bila mampu menggunakan
          pikirannya ( Orang pandai ).

          -Kitai tee sa'dan battoa, njoo na sanging parabu'
          kusanga ikita tee tubirang rakik.

          Artinya :

          Lihatlah sungai itu, tidak selamnya banjir . jadi pada saatnya
          peperangan ini akan berhenti. Apalagi kita cuma seorang wanita.

          -Allo rumundi  dadau kamatemanammoki kamaccaran ramo
          Kamalamputan nawa-nawa napugaung pasurona puang Ala Taala,
          Cokkong ma'bottinglangi

          Artinya ":

          Pada suatu waktu  nanti di saat kita semua telah tiada, maka hanya
          Perintah dan iman dapat menjadi penakluk dunia.

          - njoo kukuwa dau ewai sibuno to Balanda. Ewai owa. Ewai !!!
          Gangka pakulleammu nadden naala rapang paddimunditta, bija
          bijatta ke matemoki. lapale kematemoki natarru pilurunna to
          Balanda,deessi tuu na issen paddimunditta
          tokumua : sibunoi to Balanda , mammusui nawa to Balanda
          na mate".

          Artinya :

          Saya tidak melarang kalian melawan Belanda. Hadapilah, Hingga
          titik darah penghabisan. Sehingga keturunan kita mengetahui
          bahwa peluru menembus tubuh kita karena berperang dan melawan
          penjajah Belanda.

Menurut penjelasan Puang H. Liu Arung Maluwa :
Sewaktu Pancai Tana Bungawali-E menyingkir ke Buttu Batu , tepatnya bermarkas di London
(Temban) datanglah Puang Cora Dg Malabbi Arung Sossokmembawkan kebutuhan logistik
perang dan mengatur siasata untuk menghadang pasukan Belanda sewaktu kembali dari Makale
menuju Rappang.

         Di Baroko terjadi perang saudara antara Puang Cora Dg. Malabbi Arung Sossok dengan  
La Cando Wa Situru Ada' Marajana Sidenreng. Kedua bangsawan ini kawin dengan puteri Puang Baroko. Berita ini sampai kepada Latanro Kadhi Endekan bahwa sudah banyak korban akibat
perang di Baroko. La Tanro Kadhi Endekan menghadap ke istana Pancai Tana Bungawali-e
Puang Endekan XI.

La Tanro Kadhi Endekan berkata :

         "Besse, ringankan kakimu untuk berangkat ke Baroko karena
          Cora Dg. Malabbi Arung Sossok diserang La Cando Wa Situru
          Pangulu Lompona Sidenreng, anak buah ipamu Addatuang Sidenreng".

Beberapa hari ini kemudian berangkat rombongan Pancai Tana Bungawali-E Arung Endekan
Sossok terdiri dari Hadat 12, Arung Lili, La Tanro Kadhi Endekan, Sementaran Puang Buttu ( Arung Buttu)
Tolawe tidak berangkat karena sangat tua. Rombongan ini terdiri dari 80 ekor kuda tiba
di Sossok. Pancai Tana Bungawali-e memerintahkan La Matta Nene Battowa dari dari Hadat 12
untuk ke Baroko dan Malua memenuhi adat Duri. Namun Matta Nene Battowa kembali menemui
Pancai Tana Bungawali-E dan menyampaikan bahwa adat Duri tidak datang karena Puang Buttu
sebagai pemegang adat Mappura Onrona Endekan  tidak hadir. Hal ini di benarkan Pancai Tana Bungawali-E yang kemudian memanggil La Tanro P. Janggo Kadhi Endekan untuk memenuhi
Pancai Tana Bungawali-E . kemudian Puang Endekan berkata :

         " Jabatan  sebagai Khadi  Endekan serahkan kepada
         anakda La Tanro dan kau menjabat Puang Buttu
         Mapura Onrona Endekan.

Selanjutnya P. Pariama Ibu H. Lambogo mengambilkan jas hujan dan passapu atas perintah
Pancai Tana Bungawali-E kepada Latanro puang Buttu. Kemudian La Matta Nene Battowa
kembali ke Baraka da Malua menyampaikan bahwa Puang Buttu sudah ada bersama
Puang Endekan di Sossok. Akhirnya adat Duri datang menemui Pancai Tana Bungawali-E
memerintah hadat 12 Uwa Kammane dan adat Marajana Baroko Ambe Bondi ke Baroko
dengan membawa payung (Ta'dung) Matadena Endekan. Sewaktu tiba di tempat pertemuan
mereka mencari tempat tinggal dan memperlihatkan Ta'dung Matandena Endekan . La Cando
Uwa Situru Pangulu Lompona Sidenreng setelah mengetahui pasukan Pancai Tana Bungawali-e
Tiba, kemudian pasukannya meninggalkan medan pertempuran dan kembali ke
Sidenreng. Perang Baroko  berakhir dengan kedatangan Puang Endekan XI Pancai Tana Bungawali-E
ke Baroko.

Penting di catat disini bahwa menurut H.D. Mangemba, Puang Endekan Pancai Tana Bungawali-E
tidak mau menyerah namun krena didesak suaminya , anggota hadat dan iparnya
Addatuang Sidenrenng maka dia menanda tangani " Korte VVERKLARING" pada bulan Maret 1906.
Jadi tidak seperti yang dialami raja-raja yang melawan Belanda, Pancai Tana Bungawali-E tidak
diasingkan oleh pemerintah Belanda karena rasa kagum Pemerinta Belanda terhadap Srikandi
pejuanng Pancai Tana Bungawali-E yang di gigih dan penuh semangat itub maka pada tahun 1912
di angkat oleh Belanda memegang jabatan Puang Endekan dengan sebutan "Zelbestur Van Endekan."
kehadiran Pancai Tana Bungawali-E dalam kancah perlawanan melawan Belanda telah tertanam
di bubuk hati Rakyat indonesia khususnya rakyat Massenrempulu.

         Mengingat pengabdian dan perjuangan Pancai Tana Bungawali-E yang telah menyulam
sejarah dalam melawan penjajah Belanda , sehingga deiberikan sebuah nama kehormatan untuk Mbak
Tutut (Ny. Hj. Siti Hadiyanti Rukmana) Dalam sebuah upacara di Balai Kemanunggalan
ABRI - Rakyat pada tanggal 17 Agustus 1994

         Dalam acara malam "SURUGANNA BAMBA PUANG" di Sasono Iangen Budoyo TMII
pada tanggal 15 April 1995 akan dipentaskan Fragmen "Pancai Tana Bungawali-E dengan harapan
dapat dihadiri oleh Mbak Tutut.

         Demikian sekilas catatan Arung Endekan XI Pancai Tana Bungawali-E, Srikandi pejuang
dari raja terakhir yang melawan penjajah Belanda. Kalau negara kita tercinta dijajah Belanda
selama 350 tahun, maka Kerajaan Endekan hanya dijajah kurang lebih selama 30 tahun. Semoga Pagelaran
kesenian Kabupaten Endekan dapat memberikan arti dalam memperingati 50 tahun
Kemerdekan Republik Indonesia.

PERPUSTAKAAN

1. Andi Parenrengi Tanri    : Sekilas Informaasi tentang Perang Massenrempulu Mempertahankan
                                           Kemerdekaan dibawah pimpinan Ratu We Pancai Tana Bungawali-e
                                           Raja Endekan dan Maiwa melawan pemerintahan Kolonial
                                           Belanda.

2. Palisuri                          : Sejarah Pemerintah Wilayah Kerajaan Endekan dari Abad XV
                                           sampai dengan abad XX

3. H. Ro-E                       : Kumpulan Sejarah Tana Toraja( Tator) dan Massenrempuulu (Maspul
                                          Endekan)

4. Abidin Ma'ruf, SH.       : Mereka ahli Waris Endekan.

5. Bompeng Rilangi          : Pancai Tana Bungawali-E



IYAPI NADISANGA TAUBARANI KEMACCAI
                                                                                 (Pancaitana Bungawali-E)










SEKILA SEJARAH KERAJAAN BAMBAPUAN
 KERAJAAN TERTUA DI SULAWESI SELATAN
(Oleh Muh. Muchtar Ro-e)


LETTOMI ERAN DI LANGI TALLANGMI LONDONGNA LURA
(Patahlah tangga ke langit Tenggelamlah kerajaan Bambapuang di Lura).
         Pada umumnya kerajaan di Sulawesi-Selatan mengenal istilah TOMANURUNG
di mana pada Lontara di Endekan Massenrempulu Tomanurung di Bambapuang yang
memerintah dan bersemayam di puncak Gunung Bambapuang dimana pada zaman itu/
zaman prasejarah gunung Bambapuang merupakan gunung tertinggi di Sulawesi
Selatan

         Di atas Puncak Gunung Bambapuang oleh Dewata telah menurunkan 3 orang
Tomanurung yang utus kebumi dan berkembang menjadi keluarga besar.

         Ketiga Tomanurung tersebut masing-masing Tomanurung Wellangdilangi,
Tomanurung Tomborilangi dan Tomanurung Embongbulan. (wanita)

         Bahwa umur manusia pada zaman itu rata-rata dapat mencapai sampai seribu
tahun, maka ketiga Tomanurung tersebut setelah Dewasa mereka mempunyai rencana
untuk hidup mandiri.

         Pada suatu Hari ketiganya meminta kepada dewata agar mereka dapat
meninggalkan Puncak gunung Bambapuang dan sekaligus meminta diberi bekal
kehidupan di dunia dan oleh dewata ditetapkan sebagai berikut :

1.      Tomanurung Wellangdilangi tetap tinggal di puncak gunung Bambapuang dan
         kepadanya diberikan bekal untuk hidup di dunia berupa makanan yang cepat basi
         (padi). Tomanurung Wellangdilangi kawin dengan Maccirangka dan keluarga inilah
         yang turun temurun dan merupakan turunan keluarga raja-raja dari Bugis Makassar
         dan Mandar.

2.      Tomanurung Tomborilangi diberi kesempatan boleh meninggalkan puncak Gunung 
         Bambapuang dan memilih menuju ke negeri Matarikallo/Tana Toraja disana kawin
         Dengan Sondabilik yang telah menjadi keturunan raja-raja di Matarikkallo/Tana Toraja/
         Puang Makale.

3.      Tomanurung Embongbulan/wanita diberi kesempatan meninggalkan puncak gunung 
         Bambapuang dan memilih menyeberangi lautan dan menuju ke Kaluppini di sana 
         kawin dengan Pallipada dan inilah menjadi turunan Sawerigading dan raja-raja di
         Luwuk (Palopo). Dijelaskan bahwa pada zaman tersebut di kaki gunung Bambapuang/
         kampung mendatte adalah masih merupakan pantai yang berseberangan dengan
         Kaluppini. Mengingat Tomanurung Embongbulan seorang Putri maka oleh Dewata
         diberi bekal makanan yang tidak basi/Tabaro (terdapat di Luwu) dan diberi
         pula bekal untuk pembelaan diri sebagai ahli ilmu sihir.

         Adapun Tomanurung Wellangdilangi yang menetap dipuncak gunung Bambapuang
kawin dengan Maccirakkang anak-anak mereka dapat kawin-kawin bersaudara dan ini
berlagsung sampai generasi ketujuh.

         Setelah generasi ke tujuh inilah mereka telah berkembang menjadi keluarga besar
maka oleh Dewata diberikan ketentuan sebgai berikut :
1.  Tidak diperkenankan lagi kawin bersaudara tetapi boleh kawin dengan sepupu-
     sepupu sekali.
2.  Apabila terjadi pelanggaran tersebut maka akan terjadi musibah dan gunung
     Bambapuang akan tumbang.
3.  Kelak dimana puncak Bambapuang tumbang maka rakyat disana akan
     tetap memegang Aluktojolo serta mereka menjadikan negeri kaya, ternyata puncak
     gunung Bambapuang tumbang persis sampai di negeri Matarikallo/Tana Toraja
     Dewata ini dikenal dengan SUMPAH. ENDEKAN TANA DIGALLA TANA
     DIKABUSUNGGI artinya siapa saja rakyat dan apabila melanggar sumpah tersebut
     maka ia akan takut,bingung dan gelisah di dalam menghadapi masa depan.

         Alkisah pada generasi ketujuh ini terjadi percintaan antara seorang putri raja
Dileluwa dengan seorang putra raja Dimendatte/daerah pinggiran pantai pada waktu itu.
Percintaan mereka sangat erat sekali sehingga kasih sayang mereka ini dijabarkan
dalam syair rakyat pada waktu itu sebagai berikut :

        Tangkedaunmi tolamba
        Tangkencolin cendana
        Nauladundun
        Naletei ceppaga

             Ceppagana rileluwa
             Sappangna rimendate
             Sidendang-dendang
             Tamabamban suruga

         Surugana bambapuang
         Angina butu gajang
         Simbongimai
         Angkuaalako pammai

               Pammai dilamunbatu
               Dilamunlatangnga tondok
               Burukkibatu
               Tangburuk topenawa

Artinya dalam bahasa Indonesia

         Habislah daun pohon beringin
         Tak berpucuklah pohon cendana
         Dilalui ayam betina
         Dan ayam jantan

               Ayam Betina dari Leluwa
               Ayam Jantan dari Mendatte
               Berkasih-kasihan
               Menuju pintu surga

         Surga digunung Bambapuang
         Angin sepoi-sepoi dari Buntu Gajang
         Bertiuplah engkau
         Untuk kujadikan pelipur lara

               Budi baik dikubur bersama batu
               Dikubur  di tengah rumah
               Hancur batu
               Tidak akan hancur budi baik

         Oleh karena mereka sudah sangat intim sekali maka disepakatilah
oleh kedua bela pihak keluarga untuk diadakan perkawinan.

         Perkawinan ini berlangsung di Lura dikaki gunung Bambapuang selama tujuh
hari tujuh malam dengan pesta yang  sangat meriah sehingga kedua bela pihak keluarga
semua tuurut bersuka cita.

         Pada hari ke tujuh saat pesta perkawinan sudah akan berakhir kedua bela
pihak keluarga baru mengingat  akan pesan Dewata dari puncak gunung Bambapuang
bahwa perkawinan bersaudara dilarang , oleh karena  itu sisilah keluarga kedua penganting
tersebut di telusuri dan pada akhirnya diketahui dengan jelas bahwa kedua pengantin tersebut ditelusuri
dan pada akhirnya diketahui dengan jelas bahwa kedua sejoli tersebut ternyata masih bersaudara
satu Bapak.

         Oleh karena itu adalah merupakan suatu pelanggaran dari perintah Dewata di
puncak gunung Bambapuang maka tiba-tiba keadaan berubah menjadi gempa, turun
,hujan deras , terjadi , ombak yang besar disertai gemuruh kilat hal ini berganti siang dan malam
selama kurang lebih 40 hari 40 malam.

         Pada malam terakhir malam ke 40 gunung Bambapuang yang menjulang
tinggi ke langit tumbang dan puncak Gunung Bambapuang persis jatuh di negeri
Matarikkallo/Tanah Toraja dan didalam perjalanan perjalanan mereka apabila ada penduduk atau
binatang yang menoleh ke belakang melihat ke gunung Bambapuang semuanya berubah
menjadi batu dan peninggalan tersebut sampai sekarang masih ada di kampung Kota/
berdekatan dengan kampung Cakke Sossok.

         Penduduk yang lari dan sempat sampai ke negeri Marikkallo/Tana Toraja mereka
tetap memegang adat Aluk jolo,adat leluhur yang berasal dari puncak gunung Bambapuang
dengan melaksanakan acara Rambusolo atau pesta kematian, acara ini dilaksanakan
secara besar-besaran dan ini langsung sampai saat ini.

         Penduduk di negeri Matarikkalo/Tana Toraja dalam acara Rambutuka atau pesta
perkawinan hanya dilaksanakan dalam acara yang sangat sederhana karena apabila
diadakan secara besar-besaran mereka takut mendapat kutukan sama yang terjadi
Lura Bambapuang.

HUBUNGAN KELUARGA ENDEKAN BAMBAPUANG DENGAN KELUARGA
MATARIKKALLO/TANA TORAJA

         Keluarga Tomanurung Wellangdilangi dari generasi ke generasi berkembang
terus dan memulai proses alamiah air laut yang tadinya di kampung Mendatte menjadi
surut dan timbullah kota Endekan Rappang Pare-pare dan kota lainnya di Sulawesi-Selatan
maka lahirlah seorang putra Endekan di kampung Lekkong dengan nama Puang Tomaraju anak
Puang kota gelar La Tanro Puang Buttu.

         Demikian pula keluarga Tomanurung Tamborolangi di negeri Matarikkalo/Tana
Toraja berkembang terus dari generasi ke generasi sehingga pada suatu saat lahirlah
seorang putri dari turunan Puang Makale/sangngalla yang bernama Puang Landorundun
yang cantik.

         Pada suatu waktu putri Puang Landorundun mandi di sungai Sa'dang dan
sesudah mandi rambutnya dimasukkan dalam kendi terbuat dari buah bila dan dialirkan
melaui sungai Sa'dang , sungai ini mempunyai pertemuan dengan sungai Mata Allo di
Endekan dan oleh Puang Tomaraaju di Endekan pada suatu waktu sempat mengambil
kendi tersebut dan didapatkan berisi rambut yang panjangnya 7 depa 7 hasta dan tujuh
jengkal.

         Setelah itu Puang Tomaraju Puang Endekan ke I dari Endekan segera menelusuri
sungai Saddang sampai ke negeri Matarikkalo/Tana Toraja dan sempat bertemu dengan
putri Puang Landorundun  akhirnya keduanya dapat hidup berkeluarga dimana pada
akhirnya mereka berdua meninggal dan dikebumikandi Endekan kuburan Puang Buttu
kembali Hubungan kekeluargaan Endekan Bambapuang/Wellangdilangi dengan keluarga
Tomborolangi/Puang Makale di negeri Matarikkalo/Tana Toraja.

HUBUNGAN KELUARGA ENDEKAN BAMBAPUANG DENGAN RAJA-RAJA BONE
DAN GOA 

         Pada waktu Bapak Andi pangerang Pettarani menjadi Gubernur Sulawesi-selatan
maka oleh keluarga Puang Makale/Bapak Ir.Puang Tandilangi berkeinginan untuk menjalin
hubungan kekeluargaan dengan keluarga raja Goa, pada waktu itu diadakan lamaran
oleh keluarga Puang Makale dari  Matarikkalo/Tana Toraja tetapi pinangan mereka
sementara ditolak karena belum jelas hubungan keluarga antara keluarga raja Goa
dengan keluarga Puang Makale.

         Karena penolakan tersebut maka oleh keluarga Puang Makale menghubungi La
Sellang Puang Tobalu anak La Tanro Puang Buttu di kampung Lura Bambapuang yang
merupakan keluarga terdekat dari Puang Makale Matarikkalo/Tana Toraja. Olehnya itu
maka di utuslah La Sellang Puang  Tobalu bersama La Tangsa bekas Sulewatang Endekan
Ro-E Puang Papi melakukan pelamaran kepada Bapak Andi Pangeran Pettran yang
dihadiri juga Bapak Karaengijo Andi Loang raja Goa.

         Dalam pertemuan tersebut La Sellang Puang Tobalu menjelaskan bahwa keluarga
Puang Makale masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Raja GOWA
dan BONE dari nenek moyang mereka dari Bambapuang ialah ToManurung
Wellangdilangi dan turunan Tomanurung Tamborolangi , dijelaskan pula oleh La Sellang
Puang Tobalu  dalam bahasa Bugis sebagai berikut :

         Degaga Goa nakko degga Bone nadetto gaga Bone narekko dengan Luwu nadetto
gaga Luwu narekko Degaga Matarikkalo/Tana Toraja narekko degaga Endekan
Massenrempulu.

         Artinya :

Tidak ada kerajaan Goa kalau tidak ada kerajaan Bone dan tidak ada kerajaan Bone
kalu tidak ada kerajaan Luwu serta tidak ada kerajaan Luwu kalau tidak ada kerajaan
Matarikkalo/Tana Toraja, dan tidak ada kerajaan Matarikkalo/Tana Toraja kalau tidak ada
kerajaan Endekan dari Bambapuang. ini berarti bahwa semua kerajaan yang ada di
Sulawesi-Selatan masih mmpunyai hubungan dari keluarga dengan keluarga kerajaan di
Bambapuang.

         Dengan adanya penjelasan tersebut maka penjelasan oleh keluarga Raja Goa yang diwakili
Oleh Andi Pangeran Pettarani langsung menyatakan bahwa lamaran keluarga dari
Matarikkalo/keluarga Puang Makale Bapak Ir. Puang Tandilangi dapat diterima
perkawinan berlangsung atas dasar kekeluargaan kedua pihak.

         Menurut Prof. Dr. Andi Zainal Abidin kerajaan Tertua di Sulawesi-Selatan terdapat
di Bambapuang yang merupakan asal turun raja-raja di Sulawesi - Selatan.

         Demikian sekilas sejarah Bambapuang yang dapat kita sampaikan pada malam
SURUGANNA BAMBAPUANG pada acara di Taman Mini Indonesia Indah tanggal 15
April 1995.


                                                                                                                         Hormat kami,

                                                                                                                              Penulis

                                                                                                                    Muh. Muchtar. Ro-E






7 komentar:

  1. kunjungi juga kampungbugis.com | media jurnalisme bugis. situs dengan 6 kanal utama (sejarah, budaya, adat, tradisi, etika, dan nilai) tentang suku bugis. atau jika berkenan silahkan daftar untuk menjadi kontributor, seluruh artikel yang anda tulis terbit di kampungbugis.com atasnama anda sendiri (sebagai penulisnya).

    BalasHapus
  2. Pancaitana bungawalie adalah nenek moyang ku..

    BalasHapus
  3. Puang buttu adalah nenek moyang ku dari bapakku karena nenek ku dari bapakku adalah cucu dari hj. Bungadali

    BalasHapus
  4. Aku siapa ya turunan andi pamassangi bin puang pasisi atau puang imam tua di kabere di makam kan di pemakaman buttu batubenrekangsepupu andi tahir yang menikah dengan datu sopeng nenek ku istri andi pamassangi adik istri andi nagalung abu bakar lambogo puang manting barang kali ada penjelasan terima kasihv

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua masih ada jalurnya ternyata. Alhamdulillah

      Hapus